AIDS
“Momok yang pernah paling ditakuti adalah AIDS,” kata Ami memberikan
ceramah, di depan sejumlah ibu kampung. “Keadaan kehilangan kekebalan pada
manusia itu sampai sekarang belum ada obatnya.
Disepakati dunia sebagai pembunuh kejam akibat percaulan seks bebas. Akibat
berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual yang tidak wajar,
khususnya di kalangan kaum homo. Penularannya yang lewat hubungan kelamin dan
darah itu, kemudian merebak ke seluruh aktivitas manusia.
Tranfusi darah, jarum suntik dan kemudian di klinik gigi antara lain,
menggerus manusia yang tidak pernah melakukan kontak jasmani aneh-aneh. Bayi
yang tak berdosa pun tak urung langsung terlahir mengidap AIDS.”
“Tapi sesuai dengan pepatah, alah bisa karena biasa,”lanjut Ami menyambung
ceramahnya, “karena terlalu sering didengung-dengungkan, telinga kita sendiri
menjadi tebal dan tuli. Bahaya itu semakin lama semakin akrab dan akhirnya
sekarang sudah tidak menakutkan lagi.
Dulu siapa yang mengidap AIDS, akan dikucilkan bahkan ditembaki kalau mau
berhubungan dengan masyarakat. Sekarang malah diundang berceramah, agar
masyarakat sadar bahwa orangnya tidak berbahaya, kecuali berhubungan badan atau
darah kita kecipratan darahnya. Yang paling ditakuti sekarang sudah ganti
dengan wajah baru. Ibu-ibu tahu apa itu?”
Para ibu yang mendengarkan ceramah tidak menjawab. Ami curiga sebagian besar
nampaknya tidak mendengarkan apa yang sudah ia provokasikan. Mereka sibuk
memikirkan bagaimana mencicil pel penghambat ketuaan yang ditawarkan oleh seorang
ibu yang gencar menawarkan produk multi level.
“Sekarang yang paling berbahaya, yang nomor satu ditakuti, yang paling
mengancam kita, bukan lagi HIV, bukan lagi AIDS, bukan lagi kehilangan
kekebalan tubuh tetapi kehilangan kedudukan. Semua orang Indonesia sekarang
takut kehilangan kursi.
Kehilangan jabatan bukan hanya berarti kehilangan kehormatan dan kekuasaan,
juga kehilangan kesejahteraan. Kedudukan sekarang sudah identik dengan uang.
Tanpa kedudukan, orang akan bangkrut dan mati.
Karena itu mereka yang sedang menjabat dengan berbagai cara berusaha untuk
mempertahankan kursinya. Bila perlu dengan cara melawan hukum. Moral kita sudah
jatuh.
Itulah penyakit yang lebih membunuh dari kehilangan kekebalan, karena bukan
hanya satu orang akan mati akibat tidak kebal, tetapi tetapi seluruh bangsa,
220 juta manusia akan lenyap karena tidak punya rasa yang bersih lagi.
Terimakasih!”
Ibu-ibu bertepuk tangan gembira dan gegap gempita. Seakan-akan mendapat
siraman kesejukan setelah lelah dihajar muntahan kata-kata Ami yang hampir satu
jam itu.
Semuanya mengucapkan selamat. Mereka memuji-muji kepasihan Ami dalam
berbicara, juga karena dadanan dan rambutnya yang menarik. Tapi setelah itu
mereka merubung ibu yang membawa pel penghambat ketuaan itu.
Dengan loyo Ami pulang ke rumah.
“Kenapa keok seperti itu?” tanya Amat menyambut. “Apa ceramahmu gagal, Ami?”
” Dari awal saya tahu akan gagal. Tetapi yang paling menyakitkan adalah
karena tidak seorang pun yang memprotes ketika Ami bilang bahwa AIDS itu tidak
berbahaya lagi.”
Amat terkejut.
“Kamu bilang begitu?”
“Ya.”
Mata Amat semakin membelalak.
“Kenapa? Apa kamu kesleo? Kalau ucapan salah kan bisa diralat waktu itu
juga?”
“Bukan kesleo! Ami mengucapkan secara sadar bahkan berapi-api!”
Amat bengong.
“Aduh. Kenapa jadi bisa begitu?”
“Karena nyatanya memang begitu! HIV, AIDS memang nomor satu sebagai pembunuh
manusia. Tetapi kemerosotan akhlak yang menyebabkan seluruh bangsa kita
kehilangan karakter, tidak punya harga diri, tidak punya rasa malu, tidak
peduli kepada kemanusiaan, seenaknya saja melakukan pelanggaran hukum demi
keuntungan diri dan golongannya, adalah pembunuh yang akan menghancurkan 220
juta manusia sekaligus. Itu lebih berbahaya seribu kali daripada AIDS!”
Amat terhenyak.
“Maksudmu bangsa kita sudah kehilangan harga diri?”
“Bukan hanya itu, tetapi kehilangan otak, karena semuanya ingin hidup enak!
Itu sudah melumpuhkan kita seribu kali lebih cepat dati AIDS!”
Amat memandang tajam Ami.
“Ami!”
“Dan mereka semuanya percaya lalu bertepuk tangan memuji-muji!”
“O ya?”
“Ya! Malah ada yang menyindir, dasar anak Pak Amat! Apa nggak sakit!”
Muka Amat bersemu merah.
“Mereka bilang begitu?”
“Ya. Ami kan jadi malu!”
Amat mengangguk-ngangguk. Seperti membayangkan bagaimana para ibu kampung
itu menyalami anaknya.
“Wah, itu sangat dalam Ami!”
“Apa?”
“Bagaimana mereka tidak akan memujimu, kalau dalam usia semuda kamu, yang
belum menikah, cantik lagi, kamu kok menyadari penyakit apa yang sedang
mengancam keselamatan kita sebagai bangsa! Kamu hebat. Bapak bangga kamu sudah
mengatakan itu! Selamat!”
Amat langsung menepuk-nepuk pundak Ami. Lalu bergegas keluar, hendak menemui
para ibu yang mengikuti ceramah, untuk mendengar sendiri secara langsung,
pujian mereka kepada Ami.
Ami kebingungan. Ia memandangi Amat seperti melihat hantu.
“Kenapa Ami. Bapakmu ngomong apa?” tanya Bu Amat menghampiri.
Ami menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kenapa? Kamu sakit?”
“Ya. Ternyata benar. Semua orang sekarang sudah mengkaitkan segala-galanya
dengan politik. Bukan hanya ibu-ibu itu saja, Bapak juga sama saja. Masak Bapak
senang sekali waktu saya katakan bahwa AIDS dan HIV tidak lebih berbahaya dari
krisis moralitas yang sedang menimpa bangsa kita sekarang.
AIDS sudah dianggap enteng, yang paling penting sekarang bagaimana mencari
kedudukan, karena itu berarti duit! Bagaimana kita akan memberantas AIDS yang
semakin merebak bahkan di Bali ini, kalau pikiran kita sudah dikacaukan oleh
politik terus?”
Bu Amat tersenyum.
“Kalau begitu, benar juag komentar ibu-ibu itu, isi ceramahmu bagus sekali.”
“Apa?”
“Mereka umumnya menangkap apa yang ingin kamu katakan, bukan yang kamu
katakan Ami. Hanya saja karena orang sederhana, mereka tak mampu
mengucapkannya, atau memberi komentar seperti yang kamu inginkan, ya paling
banter mereka hanya bilang kamu cantik.”
GURU
Anak saya bercita-cita menjadi guru.
Tentu saja saya dan istri saya jadi shok. Kami berdua tahu, macam apa masa
depan seorang guru. Karena itu, sebelum terlalu jauh, kami cepat-cepat ngajak
dia ngomong.
"Kami dengar selentingan, kamu mau jadi guru, Taksu? Betul?!"
Taksu mengangguk.
"Betul Pak."
Kami kaget.
"Gila, masak kamu mau jadi g-u-r-u?"
"Ya."
Saya dan istri saya pandang-pandangan. Itu malapetaka. Kami sama sekali tidak
percaya apa yang kami dengar. Apalagi ketika kami tatap tajam-tajam, mata Taksu
nampak tenang tak bersalah. Ia pasti sama sekali tidak menyadari apa yang
barusan diucapkannya. Jelas ia tidak mengetahui permasalahannya.
Kami bertambah khawatir, karena Taksu tidak takut bahwa kami tidak setuju.
Istri saya menarik nafas dalam-dalam karena kecewa, lalu begitu saja pergi.
Saya mulai bicara blak-blakan.
"Taksu, dengar baik-baik. Bapak hanya bicara satu kali saja. Setelah itu
terserah kamu! Menjadi guru itu bukan cita-cita. Itu spanduk di jalan kumuh di
desa. Kita hidup di kota. Dan ini era milenium ketiga yang diwarnai oleh
globalisasi, alias persaingan bebas. Di masa sekarang ini tidak ada orang yang
mau jadi guru. Semua guru itu dilnya jadi guru karena terpaksa, karena mereka
gagal meraih yang lain. Mereka jadi guru asal tidak nganggur saja. Ngerti?
Setiap kali kalau ada kesempatan, mereka akan loncat ngambil yang lebih
menguntungkan. Ngapain jadi guru, mau mati berdiri? Kamu kan bukan orang yang
gagal, kenapa kamu jadi putus asa begitu?!"
"Tapi saya mau jadi guru."
"Kenapa? Apa nggak ada pekerjaan lain? Kamu tahu, hidup guru itu seperti
apa? Guru itu hanya sepeda tua. Ditawar-tawarkan sebagai besi rongsokan pun
tidak ada yang mau beli. Hidupnya kejepit. Tugas seabrek-abrek, tetapi duit nol
besar. Lihat mana ada guru yang naik Jaguar. Rumahnya saja rata-rata kontrakan
dalam gang kumuh. Di desa juga guru hidupnya bukan dari mengajar tapi dari
tani. Karena profesi guru itu gersang, boro-boro sebagai cita-cita, buat ongkos
jalan saja kurang. Cita-cita itu harus tinggi, Taksu. Masak jadi guru? Itu
cita-cita sepele banget, itu namanya menghina orang tua. Masak kamu tidak tahu?
Mana ada guru yang punya rumah bertingkat. Tidak ada guru yang punya deposito
dollar. Guru itu tidak punya masa depan. Dunianya suram. Kita tidur, dia masih
saja utak-atik menyiapkan bahan pelajaran atau memeriksa PR. Kenapa kamu bodoh
sekali mau masuk neraka, padahal kamu masih muda, otak kamu encer, dan biaya
untuk sekolah sudah kami siapkan. Coba pikir lagi dengan tenang dengan otak
dingin!"
"Sudah saya pikir masak-masak."
Saya terkejut.
"Pikirkan sekali lagi! Bapak kasih waktu satu bulan!"
Taksu menggeleng.
"Dikasih waktu satu tahun pun hasilnya sama, Pak. Saya ingin jadi
guru."
"Tidak! Kamu pikir saja dulu satu bulan lagi!"
Kami tinggalkan Taksu dengan hati panas. Istri saya ngomel sepanjang
perjalanan. Yang dijadikan bulan-bulanan, saya. Menurut dia, sayalah yang sudah
salah didik, sehingga Taksu jadi cupet pikirannya.
"Kau yang terlalu memanjakan dia, makanya dia seenak perutnya saja sekarang.
Masak mau jadi guru. Itu kan bunuh diri!"
Saya diam saja. Istri saya memang aneh. Apa saja yang tidak disukainya, semua
dianggapnya hasil perbuatan saya. Nasib suami memang rata-rata begitu. Di luar
bisa galak melebihi macan, berhadapan dengan istri, hancur.
Bukan hanya satu bulan, tetapi dua bulan kemudian, kami berdua datang lagi
mengunjungi Taksu di tempat kosnya. Sekali ini kami tidak muncul dengan tangan
kosong. Istri saya membawa krupuk kulit ikan kegemaran Taksu. Saya sendiri
membawa sebuah lap top baru yang paling canggih, sebagai kejutan.
Taksu senang sekali. Tapi kami sendiri kembali sangat terpukul. Ketika kami
tanyakan bagaimana hasil perenungannya selama dua bulan, Taksu memberi jawaban
yang sama.
"Saya sudah bilang saya ingin jadi guru, kok ditanya lagi, Pak,"
katanya sama sekali tanpa rasa berdosa.
Sekarang saya naik darah. Istri saya jangan dikata lagi. Langsung kencang
mukanya. Ia tak bisa lagi mengekang marahnya. Taksu disemprotnya habis.
"Taksu! Kamu mau jadi guru pasti karena kamu terpengaruh oleh puji-pujian
orang-orang pada guru itu ya?!" damprat istri saya. "Mentang-mentang mereka bilang, guru
pahlawan, guru itu berbakti kepada nusa dan bangsa. Ahh! Itu bohong
semua! Itu bahasa pemerintah! Apa kamu pikir betul guru itu yang sudah
menyebabkan orang jadi pinter? Apa kamu tidak baca di koran, banyak guru-guru
yang brengsek dan bejat sekarang? Ah?"
Taksu tidak menjawab.
"Negara sengaja memuji-muji guru
setinggi langit tetapi lihat sendiri, negara tidak pernah memberi gaji yang
setimpal, karena mereka yakin, banyak orang seperti kamu, sudah puas karena
dipuji. Mereka tahu kelemahan orang-orang seperti kamu, Taksu. Dipuji sedikit
saja sudah mau banting tulang, kerja rodi tidak peduli tidak dibayar. Kamu
tertipu Taksu! Puji-pujian itu dibuat supaya orang-orang yang lemah hati
seperti kamu, masih tetap mau jadi guru. Padahal anak-anak pejabat itu sendiri
berlomba-lomba dikirim keluar negeri biar sekolah setinggi langit, supaya nanti
bisa mewarisi jabatan bapaknya! Masak begitu saja kamu tidak nyahok?"
Taksu tetap tidak menjawab.
"Kamu kan bukan jenis orang yang suka dipuji kan? Kamu sendiri bilang apa
gunanya puji-pujian, yang penting adalah sesuatu yang konkret. Yang konkret itu
adalah duit, Taksu. Jangan kamu takut dituduh materialistis. Siapa bilang
meterialistik itu jelek. Itu kan kata mereka yang tidak punya duit. Karena
tidak mampu cari duit mereka lalu memaki-maki duit. Mana mungkin kamu bisa
hidup tanpa duit? Yang bener saja. Kita hidup perlu materi. Guru itu pekerjaan
yang anti pada materi, buat apa kamu menghabiskan hidup kamu untuk sesuatu yang
tidak berguna? Paham?"
Taksu mengangguk.
"Paham. Tapi apa salahnya jadi guru?"
Istri saya melotot tak percaya apa yang didengarnya. Akhirnya dia menyembur.
"Lap top-nya bawa pulang saja dulu, Pak. Biar Taksu mikir lagi! Kasih dia
waktu tiga bulan, supaya bisa lebih mendalam dalam memutuskan sesuatu. Ingat,
ini soal hidup matimu sendiri, Taksu!"
Sebenarnya saya mau ikut bicara, tapi istri saya menarik saya pergi. Saya tidak
mungkin membantah. Di jalan istri saya berbisik.
"Sudah waktunya membuat shock therapy pada Taksu, sebelum ia kejeblos
terlalu dalam. Ia memang memerlukan perhatian. Karena itu dia berusaha
melakukan sesuatu yang menyebabkan kita terpaksa memperhatikannya. Dasar anak zaman
sekarang, akal bulus! Yang dia kepingin bukan lap top tapi mobil! Bapak harus
kerja keras beliin dia mobil, supaya mau mengikuti apa nasehat kita!"
Saya tidak setuju, saya punya pendapat lain. Tapi apa artinya bantahan seorang
suami. Kalau adik istri saya atau kakaknya, atau bapak-ibunya yang membantah,
mungkin akan diturutinya. Tapi kalau dari saya, jangan harap. Apa saja yang
saya usulkan mesti dicurigainya ada pamrih kepentingan keluarga saya. Istri
memang selalu mengukur suami, dari perasaannya sendiri.
Tiga bulan kami tidak mengunjungi Taksu. Tapi Taksu juga tidak menghubungi
kami. Saya jadi cemas. Ternyata anak memang tidak merindukan orang tua, orang
tua yang selalu minta diperhatikan anak.
Akhirnya, tanpa diketahui oleh istri saya, saya datang lagi. Sekali ini saya
datang dengan kunci mobil. Saya tarik deposito saya di bank dan mengambil
kredit sebuah mobil. Mungkin Taksu ingin punya mobil mewah, tapi saya hanya
kuat beli murah. Tapi sejelek-jeleknya kan mobil, dengan bonus janji, kalau memang
dia mau mengubah cita-citanya, jangankan mobil mewah, segalanya akan saya
serahkan, nanti.
"Bagaimana Taksu," kata saya sambil menunjukkan kunci mobil itu.
"Ini hadiah untuk kamu. Tetapi kamu juga harus memberi hadiah buat
Bapak."
Taksu melihat kunci itu dengan dingin.
"Hadiah apa, Pak?"
Saya tersenyum.
"Tiga bulan Bapak rasa sudah cukup lama buat kamu untuk memutuskan. Jadi,
singkat kata saja, mau jadi apa kamu sebenarnya?"
Taksu memandang saya.
"Jadi guru. Kan sudah saya bilang berkali-kali?"
Kunci mobil yang sudah ada di tangannya saya rebut kembali.
"Mobil ini tidak pantas dipakai seorang guru. Kunci ini boleh kamu ambil
sekarang juga, kalau kamu berjanji bahwa kamu tidak akan mau jadi guru, sebab
itu memalukan orang tua kamu. Kamu ini investasi untuk masa depan kami, Taksu,
mengerti? Kamu kami sekolahkan supaya kamu meraih gelar, punya jabatan,
dihormati orang, supaya kami juga ikut terhormat. Supaya kamu berguna kepada
bangsa dan punya duit untuk merawat kami orang tuamu kalau kami sudah jompo nanti.
Bercita-citalah yang bener. Mbok mau jadi presiden begitu! Masak guru! Gila!
Kalau kamu jadi guru, paling banter setelah menikah kamu akan kembali menempel
di rumah orang tuamu dan menyusu sehingga semua warisan habis ludes. Itu
namanya kerdil pikiran. Tidak! Aku tidak mau anakku terpuruk seperti itu!"
Lalu saya letakkan kembali kunci itu di depan hidungnya. Taksu berpikir.
Kemudian saya bersorak gegap gembira di dalam hati, karena ia memungut kunci
itu lagi.
"Terima kasih, Pak. Bapak sudah memperhatikan saya. Dengan
sesungguh-sungguhnya, saya hormat atas perhatian Bapak."
Sembari berkata itu, Taksu menarik tangan saya, lalu di atas telapak tangan
saya ditaruhnya kembali kunci mobil itu.
"Saya ingin jadi guru. Maaf."
Kalau tidak menahan diri, pasti waktu itu juga Taksu saya tampar. Kebandelannya
itu amat menjengkelkan. Pesawat penerimanya sudah rusak. Untunglah iman saya
cukup baik. Saya tekan perasaan saya. Kunci kontak itu saya genggam dan
masukkan ke kantung celana.
"Baik. Kalau memang begitu, uang sekolah dan uang makan kamu mulai bulan
depan kami stop. Kamu hidup saja sendirian. Supaya kamu bisa merasakan sendiri
langsung bagaimana penderitaan hidup ini. Tidak semudah yang kamu baca dalam
teori dan slogan. Mudah-mudahan penderitaan itu akan membimbing kamu ke jalan
yang benar. Tiga bulan lagi Bapak akan datang. Waktu itu pikiranmu sudah pasti
akan berubah! Bangkit memang baru terjadi sesudah sempat hancur! Tapi tak
apa."
Tanpa banyak basa-basi lagi, saya pergi. Saya benar-benar naik pitam. Saya kira
Taksu pasti sudah dicocok hidungnya oleh seseorang. Tidak ada orang yang bisa
melakukan itu, kecuali Mina, pacarnya. Anak guru itulah yang saya anggap sudah
kurang ajar menjerumuskan anak saya supaya terkiblat pikirannya untuk menjadi
guru. Sialan!
Tepat tiga bulan kemudian saya datang lagi. Sekali ini saya membawa kunci mobil
mewah. Tapi terlebih dulu saya mengajukan pertanyaan yang sama.
"Coba jawab untuk yang terakhir kalinya, mau jadi apa kamu
sebenarnya?"
"Mau jadi guru."
Saya tak mampu melanjutkan. Tinju saya melayang ke atas meja. Gelas di atas
meja meloncat. Kopi yang ada di dalamnya muncrat ke muka saya.
"Tetapi kenapa? Kenapa? Apa informasi kami tidak cukup buat membuka mata
dan pikiran kamu yang sudah dicekoki oleh perempuan anak guru kere itu? Kenapa
kamu mau jadi guru, Taksu?!!!"
"Karena saya ingin jadi guru."
"Tidak! Kamu tidak boleh jadi guru!"
"Saya mau jadi guru."
"Aku bunuh kau, kalau kau masih saja tetap mau jadi guru."
Taksu menatap saya.
"Apa?"
"Kalau kamu tetap saja mau jadi guru, aku bunuh kau sekarang juga!!"
teriak saya kalap.
Taksu balas memandang saya tajam.
"Bapak tidak akan bisa membunuh saya."
"Tidak? Kenapa tidak?"
"Sebab guru tidak bisa dibunuh. Jasadnya mungkin saja bisa busuk lalu
lenyap. Tapi apa yang diajarkannya tetap tertinggal abadi. Bahkan bertumbuh,
berkembang dan memberi inspirasi kepada generasi di masa yanag akan datang.
Guru tidak bisa mati, Pak."
Saya tercengang.
"O… jadi narkoba itu yang sudah menyebabkan kamu mau jadi guru?"
"Ya! Itu sebabnya saya ingin jadi guru, sebab saya tidak mau mati."
Saya bengong. Saya belum pernah dijawab tegas oleh anak saya. Saya jadi gugup.
"Bangsat!" kata saya kelepasan. "Siapa yang sudah mengotori
pikiran kamu dengan semboyan keblinger itu? Siapa yang sudah mengindoktrinasi
kamu, Taksu?"
Taksu memandang kepada saya tajam.
"Siapa Taksu?!"
Taksu menunjuk.
"Bapak sendiri, kan?"
Saya terkejut.
"Itu kan 28 tahun yang lalu! Sekarang sudah lain Taksu! Kamu jangan
ngacau! Kamu tidak bisa hidup dengan nasehat yang Bapak berikan 30 tahun yang
lalu! Waktu itu kamu malas. Kamu tidak mau sekolah, kamu hanya mau main-main,
kamu bahkan bandel dan kurang ajar pada guru-guru kamu yang datang ke sekolah
naik ojek. Kamu tidak sadar meskipun sepatunya butut dan mukanya layu kurang
gizi, tapi itulah orang-orang yang akan menyelamatkan hidup kamu. Itulah gudang
ilmu yang harus kamu tempel sampai kamu siap. Sebelum kamu siap, kamu harus
menghormati mereka, sebab dengan menghormati mereka, baru ilmu itu bisa
melekat. Tanpa ada ilmu kamu tidak akan bisa bersaing di zaman global ini.
Tahu?"
Satu jam saya memberi Taksu kuliah. Saya telanjangi semua persepsinya tentang
hidup. Dengan tidak malu-malu lagi, saya seret nama pacarnya si Mina yang
mentang-mentang cantik itu, mau menyeret anak saya ke masa depan yang gelap.
"Tidak betul cinta itu buta!" bentak saya kalap. "Kalau cinta
bener buta apa gunanya ada bikini," lanjut saya mengutip iklan yang saya
sering papas di jalan. "Kalau kamu menjadi buta, itu namanya bukan cinta
tetapi racun. Kamu sudah terkecoh, Taksu. Meskipun keluarga pacarmu itu guru,
tidak berarti kamu harus mengidolakan guru sebagai profesi kamu. Buat apa?
Justru kamu harus menyelamatkan keluarga guru itu dengan tidak perlu menjadi
guru, sebab mereka tidak perlu hidup hancur berantakan gara-gara bangga menjadi
guru. Apa artinya kebanggaan kalau hidup di dalam kenyataan lebih menghargai
dasi, mobil, duit, dan pangkat? Punya duit, pangkat dan harta benda itu bukan
dosa, mengapa harus dilihat sebagai dosa. Sebab itu semuanya hanya alat untuk
bisa hidup lebih beradab. Kita bukan menyembahnya, tidak pernah ada ajaran yang
menyuruh kamu menyembah materi. Kita hanya memanfaatkan materi itu untuk
menambah hidup kita lebih manusiawi. Apa manusia tidak boleh berbahagia? Apa
kalau menderita sebagai guru, baru manusia itu menjadi beradab? Itu salah
kaprah! Ganti kepala kamu Taksu, sekarang juga! Ini!"
Saya gebrakkan kunci mobil BMW itu di depan matanya dengan sangat marah.
"Ini satu milyar tahu?!"
Sebelum dia sempat menjawab atau mengambil, kunci itu saya ambil kembali sambil
siap-siap hendak pergi.
"Pulang sekarang dan minta maaf kepada ibu kamu, sebab kamu baru saja
menghina kami! Tinggalkan perempuan itu. Nanti kalau kamu sudah sukses kamu
akan dapat 7 kali perempuan yang lebih cantik dari si Mina dengan sangat
gampang! Tidak perlu sampai menukar nalar kamu!"
Tanpa menunggu jawaban, lalu saya pulang. Saya ceritakan pada istri saya apa
yang sudah saya lakukan. Saya kira saya akan dapat pujian. Tetapi ternyata
istri saya bengong. Ia tak percaya dengan apa yang saya ceritakan. Dan ketika
kesadarannya turun kembali, matanya melotot dan saya dibentak habis-habisan.
"Bapak terlalu! Jangan perlakukan anakmu seperti itu!" teriak istri
saya kalap.
Saya bingung.
"Ayo kembali! Serahkan kunci mobil itu pada Taksu! Kalau memang mau ngasih
anak mobil, kasih saja jangan pakai syarat segala, itu namanya dagang! Masak
sama anak dagang. Dasar mata duitan!"
Saya tambah bingung.
"Ayo cepet, nanti anak kamu kabur!"
Saya masih ingin membantah. Tapi mendengar kata kabur, hati saya rontok. Taksu
itu anak satu-satunya. Sebelas tahun kami menunggunya dengan cemas. Kami
berobat ke sana-kemari, sampai berkali-kali melakukan enseminasi buatan dan
akhirnya sempat dua kali mengikuti program bayi tabung. Semuanya gagal. Waktu
kami pasrah tetapi tidak menyerah, akhirnya istri saya mengandung dan lahirlah
Taksu. Anak yang sangat mahal, bagaimana mungkin saya akan biarkan dia kabur?
"Ayo cepat!" teriak sitri saya kalap.
Dengan panik saya kembali menjumpai Taksu. Tetapi sudah terlambat. Anak itu
seperti sudah tahu saja, bahwa ibunya akan menyuruh saya kembali. Rumah kost
itu sudah kosong. Dia pergi membawa semua barang-barangnya, yang tinggal hanya
secarik kertas kecil dan pesan kecil:
"Maaf, tolong relakan saya menjadi seorang guru."
Tangan saya gemetar memegang kertas yang disobek dari buku hariannya itu.
Kertas yang nilainya mungkin hanya seperak itu, jauh lebih berarti dari kunci
BMW yang harganya semilyar dan sudah mengosongkan deposito saya. Saya duduk di
dalam kamar itu, mencium bau Taksu yang masih ketinggalan. Pikiran saya kacau.
Apakah sudah takdir dari anak dan orang tua itu bentrok? Mau tak mau saya
kembali memaki-maki Mina yang sudah menyesatkan pikiran Taksu. Kembali saya
memaki-maki guru yang sudah dikultusindividukan sebagai pekerjaan yang mulia,
padahal dalam kenyataannya banyak sekali guru yang brengsek.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Saya seperti dipagut aliran listrik. Tetapi
ketika menoleh, itu bukan Taksu tetapi istri saya yang menyusul karena merasa
cemas. Waktu ia mengetahui apa yang terjadi, dia langsung marah dan kemudian
menangis. Akhirnya saya lagi yang menjadi sasaran. Untuk pertama kalinya saya
berontak. Kalau tidak, istri saya akan seterusnya menjadikan saya bal-balan.
Saya jawab semua tuduhan istri saya. Dia tercengang sebab untuk pertama kalinya
saya membantah. Akhirnya di bekas kamar anak kami itu, kami bertengkar keras.
Tetapi itu 10 tahun yang lalu.
Sekarang saya sudah tua. Waktu telah memproses segalanya begitu rupa, sehingga
semuanya di luar dugaan. Sekarang Taksu sudah menggantikan hidup saya memikul
beban keluarga. Ia menjadi salah seorang pengusaha besar yang mengimpor
barang-barang mewah dan mengekspor barang-barang kerajinan serta ikan segar ke
berbagai wilayah mancanegara.
"Ia seorang guru bagi sekitar 10.000 orang pegawainya. Guru juga bagi
anak-anak muda lain yang menjadi adik generasinya. Bahkan guru bagi bangsa dan
negara, karena jasa-jasanya menularkan etos kerja," ucap promotor ketika
Taksu mendapat gelar doktor honoris causa dari sebuah pergurauan tinggi
bergengsi. ***
Sebuah Catatan Cerpen Sang Maestro. Putu Wijaya.