Pada tahun 1960an timbul kecenderungan baru dalam
penulisan puisi yaitu masuknya ideologi politik dalam karya sastra (termasuk
puisi). Aliran dalam sastra disebut realisme sosial, yaitu aliran realisme yang
menyuarakan adanya pertentangan sosial. Hal ini lebih nyata dengan lahirnya
Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) suatu ormas kebudayaan yang menginduk kepada
Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 28 Januari 1959. Berikut ini dikenalkan salah satu puisi dari salah satu penyair Lekra tersebut. Dia bernama Chalik Hamid.
Dibungkem
Dulu politik jadi panglima
Kau dan aku boleh bicara
Kini politik di tangan panglima
Kita dibungkem tak boleh bicara
Tulisan ini bermaksud untuk mengingatkan kita semua akan sebuah peristiwa sejarah, dimana dunia sastra pernah menjadi sarana untuk berpolitik sehingga muncul politikus-politikus bermartabat.
Selain puisi Chalik Hamid di atas, masih banyak lagi puisi-puisi dari penyair Lekra. Kita juga tahu pada saat itu muncul Taufik Ismail dengan Manifest Kebudayaannya.
Sebagai pecinta, penikmat, pemerhati sastra, kita harus lebih bijak dalam memahami keadaan tersebut. Tidak melupakannya seperti sekarang ini.
Maka dari itu, seharusnya puisi-puisi mereka dikenalkan dalam kurikulum, khususnya dalam pembelajaran sastra di sekolah-sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar