Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2013

Berpantun

Berpantun itu budaya Indonesia. Berpantun itu bukan tidak to the point dalam berbicara, tapi menunjukkan sopan santun dan keramahtamahan dalam bertutur.
Coba saja simak dan bayangkan ada dua muda mudi saling berkasih sayang lewat pantun. Bagaimana Ya.....apakah masih ada?
Ini salah satunya....

Ramai sekali orang di simpang selayang
tercium wangi aroma daun pandan
wahai wanita yang elok ku pandang
sebutlah nama tanda kita kenalan

Memanglah wangi aroma pandan
banyaklah pasti disukai orang
kalau memang mau kenalan
sudilah dahulu sebutkan nama abang

Sungguh sesak pasar tanah abang
tempat manusia belanja kain
Ahmad Yuhdi lah nama abang
orangnya manis bukan main

(si perempuan bingung membalasnya... kalau ada balasan silakan tuan dan puan kami undang)


Sabtu, 06 April 2013

Mengenal Puisi-Puisi dari Penyair Lekra

Pada tahun 1960an timbul kecenderungan baru dalam penulisan puisi yaitu masuknya ideologi politik dalam karya sastra (termasuk puisi). Aliran dalam sastra disebut realisme sosial, yaitu aliran realisme yang menyuarakan adanya pertentangan sosial. Hal ini lebih nyata dengan lahirnya Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) suatu ormas kebudayaan yang menginduk kepada Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 28 Januari 1959. Berikut ini dikenalkan salah satu puisi dari salah satu penyair Lekra tersebut. Dia bernama Chalik Hamid.

Dibungkem
Dulu politik jadi panglima
Kau dan aku boleh bicara
Kini politik di tangan panglima
Kita dibungkem tak boleh bicara 


Tulisan ini bermaksud untuk mengingatkan kita semua akan sebuah peristiwa sejarah, dimana dunia sastra pernah menjadi sarana untuk berpolitik sehingga muncul politikus-politikus bermartabat.

Selain puisi Chalik Hamid di atas, masih banyak lagi puisi-puisi dari penyair Lekra. Kita juga tahu pada saat itu muncul Taufik Ismail dengan Manifest Kebudayaannya.
Sebagai pecinta, penikmat, pemerhati sastra, kita harus lebih bijak dalam memahami keadaan tersebut. Tidak melupakannya seperti sekarang ini.
Maka dari itu, seharusnya puisi-puisi mereka dikenalkan dalam kurikulum, khususnya dalam pembelajaran sastra di sekolah-sekolah.